fraksipan.id - Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Okta Kumala Dewi, mengingatkan bahwa krisis yang tengah terjadi di Timur Tengah berpotensi menimbulkan ketidakpastian global, baik dari sisi ekonomi, politik, maupun keamanan internasional.
Hal tersebut disampaikan Okta menyusul meningkatnya eskalasi konflik setelah serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Republik Islam Iran yang memicu ketegangan terbuka di kawasan tersebut.
Menurut Okta, perkembangan situasi di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada stabilitas regional, tetapi juga dapat memengaruhi berbagai sektor di tingkat global, termasuk stabilitas energi dan perekonomian dunia.
“Ini bukan sekadar konfrontasi antara negara-negara besar. Ini adalah krisis yang memengaruhi kehidupan jutaan orang warga sipil tak berdosa yang berada di wilayah konflik,” ujar Okta dalam keterangannya, Minggu (1/3/2026).
Ia menambahkan bahwa konflik tersebut juga berpotensi memengaruhi perekonomian global yang sangat bergantung pada stabilitas energi serta dapat berdampak pada masa depan perdamaian internasional.
Dalam situasi yang masih berkembang cepat, Okta menilai dunia internasional perlu tetap fokus pada dampak kemanusiaan, diplomatik, dan ekonomi dari konflik yang berpotensi semakin meluas.
Sebagai legislator yang membidangi hubungan luar negeri dan pertahanan, Okta juga meminta Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk memaksimalkan upaya perlindungan terhadap Warga Negara Indonesia (WNI), khususnya yang berada di kawasan terdampak konflik.
“Kita memiliki tanggung jawab konstitusional untuk memastikan keselamatan setiap WNI. Pemerintah harus memastikan jalur komunikasi yang efektif, pembaruan data yang akurat, dan kesiapan langkah darurat termasuk evakuasi apabila situasi semakin memburuk,” tuturnya.
Selain perlindungan terhadap WNI, Okta menilai Indonesia juga memiliki posisi strategis untuk berperan sebagai mediator dalam mendorong perdamaian di kawasan tersebut. Hal ini karena Indonesia memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan berbagai negara yang terlibat maupun terdampak konflik, termasuk Iran, Amerika Serikat, dan negara-negara Timur Tengah lainnya.
“Politik luar negeri kita yang Bebas dan Aktif memberi Indonesia legitimasi untuk mendorong perdamaian. Kita memiliki peluang untuk menjadi mediator melalui kedekatan kita dengan negara-negara yang terlibat dan terdampak dalam konflik ini. Selain itu ini menjadi tanggung jawab moral untuk kita lebih aktif dalam situasi yang sangat genting ini,” ujarnya.
Okta juga mengingatkan bahwa konflik bersenjata dalam sejarah selalu meninggalkan dampak kemanusiaan yang mendalam, mulai dari jatuhnya korban sipil, krisis pengungsi, hingga rusaknya infrastruktur sosial yang membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan.
“Kita harus mengingat bahwa setiap hari perang berarti kehilangan harapan, nyawa, dan masa depan. Dunia harus kembali pada diplomasi, bukan konfrontasi,” tutupnya.