fraksipan.id – Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PAN, Ahmad Rizki Sadig, menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menyentuh kisaran Rp17.700 per USD harus dilihat secara objektif sebagai dampak dari tekanan ekonomi global yang tengah melanda banyak negara berkembang.
Menurut Rizki, penguatan dolar AS saat ini dipicu oleh tingginya suku bunga global, ketidakpastian geopolitik, hingga pergeseran arus modal internasional menuju aset safe haven. Kondisi tersebut, kata dia, tidak hanya berdampak terhadap Indonesia, tetapi juga menekan hampir seluruh mata uang emerging markets.
“Situasi ini bukan hanya dialami Indonesia. Banyak negara berkembang menghadapi tekanan serupa akibat penguatan dolar AS dan ketidakpastian ekonomi global. Karena itu, yang paling penting saat ini adalah menjaga stabilitas ekonomi nasional dan kepercayaan pasar,” ujar Rizki Sadig.
Ia mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan pemerintah bersama Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui intervensi pasar valuta asing, penguatan instrumen fiskal, hingga pengendalian inflasi.
“Bank Indonesia telah melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi spot, DNDF, dan penguatan likuiditas valas. Sementara pemerintah juga mulai melakukan penyesuaian kebijakan fiskal dan mitigasi terhadap dampak imported inflation. Ini menunjukkan negara hadir menjaga stabilitas ekonomi,” lanjutnya.
Rizki menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak serta-merta mencerminkan lemahnya fundamental ekonomi Indonesia. Selama konsumsi domestik tetap terjaga, inflasi terkendali, dan sektor strategis nasional terus bergerak, ia meyakini peluang pemulihan ekonomi masih terbuka lebar.
Selain itu, ia mendorong momentum tekanan global ini dimanfaatkan untuk mempercepat penguatan sektor riil nasional, termasuk hilirisasi industri, pengurangan ketergantungan impor energi, serta peningkatan daya saing ekspor nasional.
“Di tengah tekanan global, Indonesia justru harus memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui hilirisasi, penguatan industri domestik, dan optimalisasi ekspor bernilai tambah. Dengan langkah yang tepat, peluang pemulihan rupiah tetap terbuka,” jelasnya.
Rizki juga memastikan Fraksi PAN DPR RI mendukung langkah pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Namun demikian, ia mengingatkan agar perlindungan terhadap daya beli masyarakat tetap menjadi prioritas utama.
“Yang harus dijaga bukan hanya nilai tukar, tetapi juga daya beli rakyat, stabilitas harga kebutuhan pokok, serta optimisme dunia usaha. Dengan koordinasi kebijakan yang kuat, kita optimistis ekonomi Indonesia tetap memiliki daya tahan menghadapi tekanan global,” tutupnya.