fraksipan.id – Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PAN, Sigit Purnomo Said alias Pasha Ungu, menyoroti akurasi prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam memantau dan memprediksi potensi bencana alam di Indonesia.

Hal itu ia sampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VIII DPR dengan Tim Pengawas Penanganan Bencana dan mitra terkait, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (6/11/2025).

Dalam forum tersebut, Pasha mempertanyakan tingkat keakuratan prediksi BMKG terhadap berbagai potensi bencana seperti gempa bumi, tsunami, dan banjir yang sering menjadi acuan bagi lembaga penanggulangan bencana nasional.

“Sebenarnya seberapa akurat prediksi BMKG ini? Kalau dari persentase, 50–95 persen kira-kira di angka berapa tingkat keakuratannya — baik soal potensi gempa, potensi tsunami, maupun potensi banjir?” tanya Pasha.

Menurut legislator asal Fraksi PAN itu, akurasi informasi dari BMKG sangat menentukan efektivitas langkah antisipasi lembaga terkait, seperti Basarnas dan BNPB.

“Kadang-kadang Basarnas dan BNPB sudah bersiap karena mendengarkan informasi dari BMKG, tapi ternyata tidak kejadian. Ini membuat publik ragu terhadap sistem peringatan dini yang seharusnya bisa diandalkan,” ujar Pasha.

Mantan Wakil Wali Kota Palu tersebut juga mengingatkan pentingnya perbaikan sistem early warning setelah pengalaman pahit bencana tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah pada 2018, di mana peringatan dini tidak berfungsi dengan baik.

“Tidak ada peringatan dini, mesinnya rusak. Yang tsunami itu di pantai kami. Saat itu tidak ada peringatan dari BMKG sebelumnya. Ini harus jadi pelajaran besar,” tegasnya.

Pasha menilai, kejadian tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan teknologi harus diiringi peningkatan koordinasi antarinstansi, agar informasi bencana yang diterima publik benar-benar akurat dan dapat ditindaklanjuti secara cepat.

“Ke depan, harus ada kolaborasi nyata antarinstansi agar penanganan bencana tidak selalu bergantung pada aparat di lapangan. Semua sistem harus terintegrasi, dari pusat hingga daerah,” pungkasnya.

Bagaimana menurut Anda, apakah sistem prediksi dan peringatan dini bencana di Indonesia sudah cukup akurat dan andal? Tulis pendapat Anda di kolom komentar!