fraksipan.com – Anggota Komisi I DPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Okta Kumala Dewi, menyampaikan dukungannya terhadap seruan Presiden Prabowo Subianto agar ASEAN memperkuat persatuan dan menjaga stabilitas kawasan. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul pidato Presiden Prabowo dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-47 di Kuala Lumpur.
Menurut Okta, pidato Presiden Prabowo mencerminkan kepemimpinan Indonesia yang berwibawa dan berorientasi pada perdamaian regional.
“Pidato Presiden Prabowo menggambarkan kepemimpinan Indonesia yang aktif dalam mewujudkan perdamaian dan stabilitas kawasan. Kehadiran beliau menunjukkan peran strategis Indonesia dalam menjaga soliditas dan arah strategis ASEAN di tengah dinamika global,” ujar Okta, Kamis (23/10/2025).
Okta menilai seruan Presiden Prabowo agar ASEAN tetap solid di tengah ketidakpastian geopolitik global sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini.
“Kita tidak boleh membiarkan ASEAN terpecah oleh kepentingan global. Pesan Presiden Prabowo bahwa ASEAN harus bersatu dan berdaulat merupakan langkah penting untuk memperkuat solidaritas dan menjaga stabilitas kawasan,” tegasnya.
Selain itu, Okta turut menanggapi pujian Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kepada Presiden Prabowo di sela-sela KTT ASEAN. Ia menilai pujian tersebut sebagai pengakuan internasional terhadap peran Indonesia dalam percaturan global.
“Pujian dari Presiden Trump adalah tanda bahwa dunia mengakui Indonesia sebagai aktor penting di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. Kini Indonesia tampil sebagai kekuatan strategis dalam diplomasi internasional,” katanya.
Lebih lanjut, Okta menekankan pentingnya semangat kolaborasi dan diplomasi damai antarnegara ASEAN. Ia mengutip prinsip klasik si vis pacem para pacem — jika ingin perdamaian, bersiaplah untuk damai — sebagai refleksi atas arah kebijakan luar negeri Indonesia saat ini.
“Perdamaian tidak bisa hanya menjadi wacana. ASEAN harus memperkuat dialog dan kerja sama nyata. Prinsip ‘si vis pacem para pacem’ mengingatkan kita bahwa kekuatan terbesar bukan pada senjata, tetapi pada kemauan untuk berdamai dan bekerja sama,” pungkasnya.