fraksipan.com - Anggota DPR RI Komisi I Fraksi PAN Dapil Banten 3 (Tangerang Raya), Okta Kumala Dewi, melakukan kunjungan ke Yayasan Raudlatul Makfufin, lembaga pendidikan bagi penyandang tunanetra.

Kunjungan ini disambut hangat oleh para santri dan guru-guru tunanetra di yayasan tersebut. Saat ini, Yayasan Raudlatul Makfufin menampung sekitar 26 santri tunanetra, dengan beberapa tenaga pengajar yang juga memiliki keterbatasan penglihatan. Selama ini, yayasan tersebut berkembang berkat swadaya dan dukungan masyarakat, menjadi ruang belajar dan dakwah yang penuh makna.

Dalam kunjungan tersebut, Okta berdialog langsung dengan para santri tunanetra dan guru-guru yang sebagian juga merupakan penyandang disabilitas. Saat ini, yayasan tersebut menaungi sekitar 26 santri tunanetra, dan berkembang secara swadaya dengan semangat kemandirian serta keikhlasan yang tinggi.

Okta terinspirasi oleh semangat para santri dan tenaga pengajar di yayasan tersebut yang terus belajar dan mengabdi di tengah keterbatasan.

“Melihat semangat mereka menuntut ilmu dan mengajar membuat saya semakin bersyukur dan yakin bahwa disabilitas bukanlah penghalang untuk berkontribusi. Mereka memiliki potensi luar biasa yang perlu difasilitasi,” ujar Okta.

Okta menambahkan, pertemuan dengan para santri tunanetra tersebut semakin meneguhkan komitmennya untuk terus memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas, termasuk pemberdayaan mereka dalam pelbagai bisang

“Saya ingin mendorong mitra-mitra kementerian dan lembaga yang menjadi mitra Komisi I DPR RI khususnya untuk memberdayakan penyandang disabilitas. Mereka memiliki potensi luar biasa yang patut diberi ruang dan kesempatan,” jelasnya.

Salah satu contoh yang disebutkan Okta adalah peluang pemberdayaan penyandang disabilitas di sektor pertahanan dan keamanan, seperti TNI. Di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, sudah ada kebijakan inklusif yang memungkinkan warga disabilitas berperan di bidang pertahanan dan keamanan sesuai kemampuan dan perannya masing-masing.

Okta berharap kunjungan ini menjadi awal dari kolaborasi nyata dalam memperkuat inklusivitas di berbagai bidang.

“Para santri tunanetra di Yayasan Raudlatul Makfufin membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berprestasi. Mereka bukan hanya belajar untuk diri sendiri, tapi juga menginspirasi banyak orang,” tutup Okta.