fraksipan.com – Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PAN, Farah Puteri Nahlia, menegaskan bahwa perang melawan judi online (judol) tidak bisa hanya mengandalkan penindakan dan pemblokiran situs semata. Pemerintah, menurutnya, perlu menyeimbangkan upaya tersebut dengan edukasi publik yang masif dan berkelanjutan agar kesadaran masyarakat tumbuh dari akar permasalahan.
Pernyataan ini disampaikan Farah menanggapi langkah serius pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang telah memblokir 23.929 rekening bank terkait aktivitas judi online.
“Pemutusan aliran dana adalah langkah krusial. Kolaborasi lintas sektoral antara Komdigi dan OJK ini harus terus diperkuat. Penurunan transaksi judi online hingga 80 persen pada kuartal pertama 2025 merupakan capaian yang patut kita syukuri,” ujar Farah kepada wartawan, Jumat (17/10/2025).
Farah mengapresiasi capaian tersebut sebagai bentuk nyata keseriusan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam memerangi praktik ilegal yang merusak moral dan ekonomi masyarakat. Namun ia menegaskan bahwa langkah tersebut belum boleh membuat pemerintah dan masyarakat lengah.
“Kita berharap angkanya dapat terus ditekan pada kuartal-kuartal mendatang,” tegasnya.
Lebih lanjut, Farah mengingatkan bahwa perang terhadap judi online bukan semata tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan kesadaran masyarakat sebagai kunci keberhasilan jangka panjang.
“Pemerintah bisa memblokir ribuan bahkan jutaan situs dan rekening, tetapi jika permintaan dari masyarakat masih tinggi, para bandar akan selalu mencari cara baru. Akarnya ada di sini, pada demand masyarakat,” jelasnya.
Untuk itu, Farah mendorong agar pemerintah tidak hanya fokus pada penindakan, tetapi juga memperkuat aspek edukasi dan literasi digital. Menurutnya, edukasi publik yang komprehensif mampu menjadi benteng pertahanan sosial yang paling kokoh, dimulai dari keluarga, sekolah, dan komunitas.
“Kami akan mendorong pemerintah untuk semakin gencar mengalokasikan sumber daya untuk kampanye dan program edukasi yang menyentuh langsung ke sekolah, komunitas, dan keluarga. Kita harus membangun kesadaran kolektif bahwa judi online bukan jalan pintas, melainkan jurang kehancuran sosial dan ekonomi,” tutur politisi muda PAN tersebut.
Farah juga mengajak seluruh elemen bangsa — pemerintah, pelaku industri digital, tokoh masyarakat, hingga setiap individu — untuk bergandengan tangan menciptakan ruang digital yang sehat, produktif, dan aman.
“Perang melawan judi online ini adalah perjuangan kita bersama. Hanya dengan sinergi dan komitmen kolektif, kita bisa memastikan ruang digital menjadi tempat yang memberdayakan, bukan menjerumuskan,” pungkasnya.
Apa pendapat Anda tentang pentingnya edukasi publik dalam memberantas judi online di Indonesia? Sampaikan pandangan Anda di kolom komentar!