fraksipan.com - Program beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) selama ini dikenal sebagai salah satu skema paling bergengsi yang ditawarkan pemerintah. Ribuan mahasiswa berprestasi dari dalam maupun luar negeri bersaing ketat untuk mendapatkan kesempatan emas ini. Namun, di balik citra positifnya, Primus Yustisio, Anggota DPR RI dari Fraksi PAN, menyampaikan kritik tajam terhadap sejumlah persoalan yang menurutnya perlu segera dibenahi.
Dalam rapat dengar pendapat Komisi XI DPR bersama eselon I Kementerian Keuangan, Kamis lalu, Primus Yustisio menyoroti masalah seleksi, transparansi, hingga akses keadilan dalam distribusi beasiswa LPDP. Berikut 5 fakta penting dari kritik yang ia sampaikan:
1. Seleksi LPDP Dinilai Terlalu Rumit
Menurut Primus, proses seleksi LPDP yang ada saat ini terlalu berlapis dan menyulitkan banyak calon pendaftar. Ia menilai bahwa seleksi seharusnya tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga memberi ruang bagi masyarakat dari latar belakang ekonomi lemah.
2. Persyaratan Dinilai Berlebihan dan Membingungkan
Selain seleksi yang rumit, Primus menilai persyaratan LPDP terlalu banyak dan kadang tidak jelas. Hal ini membuat sebagian calon pendaftar merasa terkendala, bahkan menimbulkan kesan bahwa program hanya untuk kalangan tertentu.
3. Transparansi Data Penerima Masih Lemah
Primus Yustisio juga menyoroti minimnya keterbukaan publik terkait data penerima beasiswa. Menurutnya, data penerima seharusnya bisa diakses secara terbuka agar publik dapat menilai sejauh mana program ini tepat sasaran.
4. Kisah Keponakan Primus yang Ditolak LPDP
Primus bahkan mengungkap pengalaman pribadi keluarganya. Keponakannya pernah gagal mendapatkan LPDP, padahal kemudian justru memperoleh beasiswa dari Belanda. Hal ini menjadi cerminan bahwa talenta muda Indonesia bisa lebih dihargai oleh lembaga asing dibandingkan oleh program dalam negeri.
5. Usulan Terobosan Baru dari Primus Yustisio
Tidak hanya mengkritik, Primus juga memberi solusi. Ia mendorong adanya skema beasiswa afirmasi bagi masyarakat miskin, jalur khusus bagi daerah tertinggal, hingga program percepatan bagi mereka yang memiliki prestasi luar biasa. Menurutnya, terobosan ini penting agar LPDP benar-benar menjadi instrumen pembangunan SDM, bukan sekadar simbol prestise.
Penutup
Kritik yang disampaikan Primus Yustisio dari Fraksi PAN ini menjadi refleksi penting agar LPDP semakin transparan, inklusif, dan adil. Beasiswa seharusnya hadir untuk membuka kesempatan yang lebih luas, bukan hanya bagi mereka yang sudah memiliki akses dan fasilitas, tetapi juga untuk anak bangsa dari seluruh lapisan masyarakat.
Bagaimana menurut Anda tentang kritik yang disampaikan Primus Yustisio terkait LPDP? Apakah sudah saatnya program beasiswa ini dibenahi agar lebih adil? Silakan tinggalkan pendapat Anda di kolom komentar!